Keunikan Pacu Jalur yang Elok dan Mendunia, Saat Ini Telah Ditetapkan Wisata Nasional
- Rabu, 17 Juli 2024
Pacu jalur atau pachu jalhug, patcoe djaloer) adalah perlombaan tradisional dayung atau perahu sampan terbuat dari kayu yang umurnya sudah ratusan tahun, betul betul kayu yang lurus dan bulat serta panjang.
Selain itu mencarinya harus di tengah hutan yang pasti tentu umurnya sudah ratusan tahun dan biasannya kayu tersebut yang di apat dari hutan kota itu sendiri, yang betul betul masih mulus dan belum cacat , tidak boleh di sambung maupun bengkok , pasalnya kayu tersebut akan di bentuk memanjang pipih serta dapat di naiki lebig dari lima puluh orang.
Lomba pacu jalur atau juga pacu sampan tersebut saat ini sudah di agendakan dalan agenda wisata tahunan di kabupaten talu kuantan atau di kenal dengan kabupaten Kuantan Singingi, dari daerah ibu kota provinsi dapat di tempuh dalam 5 sampai 6 jam.
Selain itu untuk pacu jalus sendiri sudah di kenal bukan di indonesia saja akan tetapi sudah mendunia, sudah go internasional, tinggal bagai mana cara mengemas dan melestarikan wisata tersebut hingga sampai di kemudian hari atau anak cucu yang akan datang. Selain itu para pemain tersebut rata rata sudah pemain dayung nasional bahkan internasional di peserta perlombaan tersebut.
Secara etimologinya, istilah pacu jalur berasal dari bahasa minang kabau dari sumatera barat , pacu sendiri mempunyai arti , lomba , sedangkan kata jalur berarti , sampan atau perahu untuk memudahkan dalam percakan atau mengartikan, pacu jalur, secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai "balapan perahu" atau "balapan kano".
Tergantung dari perbedaan dialek dalam bahasa minangkabau, pacu jalur dapat dieja secara beragam, seperti pacu jalua dalam bahasa minang.
Dalam pemotongan kayu besar atau mencari pohon besar masyarakat pada umumnya harus melakukan ritual terlebih dahulu atau mengadakan doa dengan bertujuan untuk menghormati dan meminta izin kepada hutan belantara saat mengambil kayu yang besar tersebut.
Satu jalur dapat di pakai oleh 50-60 orang atlit dayung dan satu orang di ujung depat sebagai penyemangat seta satu orang di ujung belakang sebagai pengatur arah dalam keadaan berdiri.
Menariknya untuk di bagian ujung depan maupun belakang selalu diisi oleh anak-anak. Dengan alasan , karena anak-anak memiliki berat badan yang tergolong ringan, serta mempunyai keseimbangan yang stabil.
Dengan begitu, perahu tetap bisa melaju mulus dan terarah . anehnya gerakan yang dilakukan oleh anak yang di depan tersebut mempunyai arti yang dapat di pikiran para pendayung itu sendiri, selain penyemangat juga seperti ada kekuatan yang unik.
Dari keunikannya tersebut, tentu tidak heran jika festival pacu jalur menjadi salah satu festival yang dinantikan oleh banyak orang dari dalam kota maupun luar kota, dari dalam nergri maupun dari luar negri. Dan dalam perlombaan ini selalu di ikuti oleh peserta dari beberapa daerah maupun negara tetangga, biarpun pesertannya banyak, di dalam satu team tersebut mencapai 50 sampai 60 orang di tambah dua orang anak sebagai joki di ujung perahu dan di belakang perahu atau sampan.
Selain itu untuk perahu sendiri panjangnya bisa mencapai 30 sampai 50 meter yang biasannya untuk pemainnya oleh peseta laki laki semua , untuk lebar sampan atau perahu 1, sampai 1,5 meter saja.
Pacu jalur itu sendiri sudah dimulai sejak tahun 1903. Saat itu diadakan di kampung-kampung masyarakat dalam rangka memeriahkan peringatan hari besar Islam.
Ketika pemerintahan Hindia Belanda mengetahui ini maka perlombaan pacu jalur pun dijadikan sebagai hiburan untuk acara-acara perayaan adat, kenduri, dan pernah dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Ratu Wilhelmina (Ratu Belanda) yang jatuh pada 31 Agustus.
Sehingga perlombaan pacu jalur dilaksanakan mulai 31 Agustus sampai 2 September. Begitulah keunikan pacu jalur tang ada di taluk kuantan atau di kabupaten kuantan singigi provinsi Riau. (Isd)
Jangan lupa subscribe, like, komen dan juga kunjungi Instagram kami @riauraya.tv
Video Lainnya
Notice: Use of undefined constant tag - assumed 'tag' in /home/u6048245/public_html/riauraya.tv/template/page/berita.php on line 147

