Webinar Merajut Nusantara, Syahrul Aidi Maazat Tekankan Etika Pers di Era AI
- Rabu, 16 September 2026
PEKANBARU (RRTV) – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat dinilai membawa tantangan baru bagi dunia jurnalistik. Anggota Komisi I DPR RI sekaligus keynote speaker webinar nasional Merajut Nusantara, Drs. Syahrul Aidi Maazat, Lc., M.A., mengingatkan insan pers agar tidak mengabaikan etika dan dampak informasi yang disebarkan kepada publik.
Hal itu disampaikan Syahrul Aidi dalam webinar nasional bertajuk “Jurnalisme di Era AI: Antara Kebebasan Pers, Keamanan Digital, dan Regulasi” yang diikuti sekitar 200 jurnalis dari berbagai media massa di Provinsi Riau, Rabu (16/9/2026).

Dalam pemaparannya, Syahrul Aidi menyoroti fenomena citizen journalism yang berkembang pesat seiring semakin mudahnya masyarakat memproduksi dan menyebarkan informasi.
Menurutnya, kebebasan masyarakat dalam menyampaikan informasi perlu dibarengi kesadaran terhadap etika serta dampak dari informasi yang disebarluaskan.
Ia mencontohkan informasi atau video palsu mengenai penculikan anak yang dapat menyebar dengan cepat dan memicu kepanikan di tengah masyarakat.
Syahrul Aidi juga mengingatkan bahwa maraknya hoaks tidak hanya berdampak pada individu, tetapi berpotensi memicu konflik SARA, mengganggu integritas bangsa, hingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap media yang kredibel.
Karena itu, perkembangan teknologi AI menurutnya perlu diiringi dengan peningkatan literasi dan tanggung jawab dalam mengonsumsi maupun menyebarkan informasi.
Peringatan serupa disampaikan narasumber lainnya, Ir. Woro Indah Widiastuty, MT. Ia mengingatkan jurnalis untuk tetap mengedepankan moral dan verifikasi di tengah kemampuan AI yang semakin canggih.
“Tantangan kita ke depan sangat berat. Hoaks semakin canggih dan AI semakin pintar, tetapi ada satu hal yang tidak dimiliki AI, yaitu hati nurani,” ujarnya.
Ia mengajak insan pers dan masyarakat melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum menyebarkan informasi serta turut mencegah penyebaran kebencian.
“Mulailah dengan nurani yang bertanggung jawab dari diri kita sendiri, mulai dari jempol kita sendiri. Dengan begitu, hoaks dapat ditekan dan akurasi berita tetap terjaga,” tambahnya.
Sementara itu, Akademisi sekaligus Ketua STIM Budi Bakti, Dr. Aza El Munadiyan, S.Si., M.M., AMIPR, menyoroti pentingnya regulasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat dan pers Indonesia.
Ia berharap perkembangan teknologi informasi dapat mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, dan literasi masyarakat, sekaligus menciptakan kompetisi industri yang sehat.
“Harapan kita negara bisa memberikan pendekatan yang bukan hanya memperkuat regulasi, tetapi juga bagaimana mengatur dan melindungi masyarakat serta pers Indonesia,” katanya.
Webinar yang diinisiasi BAKTI Komdigi bekerja sama dengan Komisi I DPR RI dan STIM Budi Bakti ini menegaskan bahwa kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan jurnalistik di tengah perkembangan *citizen journalism*, algoritma, dan pemanfaatan AI.
Verifikasi informasi, perlindungan data pribadi, keamanan narasumber, hingga keberanian melakukan koreksi tetap menjadi bagian penting dari tanggung jawab jurnalis.
Para jurnalis di Riau pun didorong untuk terus meningkatkan kapasitas teknis dan etis dalam menghadapi perkembangan AI. Adaptasi teknologi diharapkan tetap berjalan beriringan dengan prinsip jurnalistik, sehingga AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung kerja pers tanpa mengesampingkan akurasi, verifikasi, etika, keamanan digital, dan tanggung jawab kepada publik. (mm)
Jangan lupa subscribe, like, komen dan juga kunjungi Instagram kami @riauraya.tv
Video Lainnya
Notice: Use of undefined constant tag - assumed 'tag' in /home/u6048245/public_html/riauraya.tv/template/page/berita.php on line 147

