Melihat Canggihnya Instalasi Biogas Limbah Sawit Kolaborasi BRIN-PTPN IV di Sei Pagar

  • Minggu, 08 November 2026

PEKANBARU (RRTV) - Pemanfaatan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi salah satu alternatif pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia. Potensi tersebut turut dilaporkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, beberapa waktu lalu.

Dalam laporan tersebut, Arif menyampaikan bahwa limbah industri kelapa sawit berpotensi dikonversi menjadi energi listrik dengan kapasitas mencapai 3,9 gigawatt (GW). Salah satu upaya pemanfaatannya adalah mengolah limbah cair hasil pengolahan kelapa sawit menjadi biogas.

“Terkait potensi energi masa depan, kami juga melaporkan kepada Bapak Presiden sejumlah potensi energi yang dapat dikembangkan, salah satunya melalui pemanfaatan limbah sawit menjadi biogas,” kata Arif.

Berdasarkan data BRIN, potensi limbah cair dari pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Indonesia diperkirakan mencapai 229,9 juta meter kubik per tahun. Limbah tersebut mengandung bahan organik yang dapat menghasilkan gas metana melalui proses penguraian tanpa oksigen atau anaerobik.

Selain berpotensi menjadi sumber energi, pengolahan POME juga penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Pasalnya, gas metana yang terlepas dari proses penguraian limbah organik memiliki dampak terhadap pemanasan global.

Arif mengatakan, pengembangan pemanfaatan biogas ke depan juga perlu diarahkan pada teknologi penyimpanan agar gas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan lebih luas.

“Hal yang lebih penting adalah bagaimana biogas tersebut dapat dikonversi dan disimpan dalam tabung gas,” ujarnya.

Pemanfaatan limbah sawit menjadi biogas bukan hal baru bagi industri perkebunan. Salah satu penerapannya dilakukan melalui kolaborasi BRIN dan PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Pagar, Kabupaten Kampar, Riau.

Sejak 2020, kedua pihak mengembangkan instalasi Pembangkit Biogas (PTBg) Sei Pagar untuk mengolah POME menjadi biogas yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan bakar pendamping dalam proses produksi pabrik.

Dalam pengembangannya, instalasi tersebut menggunakan teknologi Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR), yakni reaktor tangki berpengaduk yang memungkinkan proses penguraian bahan organik berlangsung secara anaerobik. Melalui proses ini, gas metana yang terbentuk dapat ditangkap dan dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga biogas yang mengubah gas metana menjadi energi listrik, PTBg Sei Pagar memanfaatkan biogas secara langsung untuk mendukung kebutuhan energi pabrik. Gas yang dihasilkan dialirkan ke boiler sebagai bahan bakar pendamping atau co-firing.

 

Plt Region Head PTPN IV PalmCo Sori P Ritonga menjelaskan, pemanfaatan biogas di Sei Pagar diarahkan untuk mendukung kebutuhan energi internal pabrik.

“PTBg Sei Pagar dirancang dengan filosofi energi dari sawit untuk sawit. Gas metana yang ditangkap tidak diubah langsung menjadi energi listrik komersial, melainkan dialirkan kembali ke dalam proses produksi pabrik,” kata Sori.

Menurut dia, biogas tersebut digunakan sebagai bahan bakar pendamping pada boiler PKS Sei Pagar. Pemanfaatannya diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil maupun bahan bakar konvensional lainnya.

PKS Sei Pagar memiliki kapasitas pengolahan tandan buah segar sebesar 30 ton per jam. Adapun POME yang dihasilkan memiliki kandungan bahan organik tinggi, dengan nilai Chemical Oxygen Demand (COD) rata-rata sekitar 42.685 miligram per liter. Tingginya kandungan bahan organik tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung produksi biogas.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, pengolahan limbah cair menjadi biogas telah dikembangkan perusahaan sejak lebih dari satu dekade lalu. Upaya tersebut dimulai melalui pengoperasian PLTBg Tandun di Riau pada 2012, ketika wilayah operasional perusahaan masih berada di bawah PTPN V.

Proyek tersebut kemudian memperoleh ASEAN Energy Awards pada 2014 untuk kategori Off-Grid Power. Pengembangan serupa dilanjutkan melalui pengoperasian PLTBg Terantam pada periode 2019-2020.

“Upaya mengonversi limbah cair sawit menjadi energi alternatif telah menjadi bagian dari perjalanan transformasi PTPN IV PalmCo. Selain mengurangi emisi gas metana, pemanfaatannya juga diarahkan untuk meningkatkan efisiensi energi dalam operasional pabrik,” kata Jatmiko.

Hingga saat ini, untuk wilayah Riau, PTPN IV melalui Regional III mengoperasikan enam instalasi biogas, yakni di Tandun, Terantam, Sei Pagar, Lubuk Dalam, Sei Tapung, dan Sei Rokan. Instalasi Sei Rokan mulai beroperasi pada akhir 2025.

Pemanfaatan biogas dari limbah sawit tersebut juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi melalui pengurangan penggunaan bahan bakar konvensional. Perusahaan menyebutkan, pengembangan instalasi biogas secara keseluruhan telah membantu menghemat biaya energi hingga puluhan miliar rupiah serta mengurangi konsumsi solar hingga jutaan liter.

Selain pemanfaatan langsung untuk kebutuhan pabrik, pengembangan teknologi pengolahan biogas juga diarahkan pada produksi bahan bakar yang dapat disimpan dan didistribusikan.

Sejalan dengan hal tersebut, BRIN dan PTPN IV PalmCo tengah mengkaji pengembangan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG) berbasis limbah kelapa sawit. Teknologi ini diharapkan dapat mengolah biogas menjadi biomethana terkompresi yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, termasuk untuk kebutuhan di luar lingkungan pabrik.(z)

#kampar
#riau

Lainnya